Showing posts with label Kebumian. Show all posts
Showing posts with label Kebumian. Show all posts

Friday, 25 January 2013

Bagaimana cara mengetahui umur fosil?



Bagaimana para arkeolog dapat menentukan umur sebuah fosil ya? 

maka langsung saja...

Yaitu :

Dengan cara menggunakan radioaktif C-14 yang dikenal dengan istilah 'Carbon-14 Dating', caranya dengan membandingkan jumlah Carbon-14 yang ada di dalam fosil tersebut dengan kandungan C-14 di makhluk hidup, kemudian menghitungnya dengan menggunakan rumus:
t = [ ln (Nf/No) / (-0.693) ] x T ; dimana
t: umur fosil
Nf/No: perbandingan kandungan C-14 pada fosil dengan jaringan hidup
T: waktu paruh Carbon-14 = 5700 tahun.

Misalnya suatu fosil mengandung 10% Carbon-14 dibandingkan dengan jaringan hidup, maka umur fosil tersebut adalah:

t = [ ln 0.1 / (-0.693) ] x 5700 tahun
t = [ (-2.303) / (-0.693) ] x 5700 tahun
t = 18 940 tahun.

Diukur dengan cara radiasi
 
Geokronologi merupakan ilmu untuk menentukan umur absolut batuan, fosil, dan sedimen, dalam suatu tingkat ketidakpastian tertentu yang melekat dalam metode yang digunakan. Berbagai macam metode penentuan umur digunakan oleh ahli geologi untuk
mencapai hal tersebut.
 

Thursday, 24 May 2012

FOSIL DAN SEKALA WAKTU GEOLOGI


A. FOSIL


Difinisi

Fosil adalah sisa atau jejak atau bekas hewan maupun tumbuhan yang hidup pada masa lampau yang telah membatu, tertimbun, dan terawetkan secara alamiah. Jadi fosil tidak selalu dalam bentuk sisa jasad, tetapi dapat pula dalam bentuk hanya berupa telapak kaki suatu hewan.

Berdasarkan difinisi ini, maka Mummy orang Mesir tidak dapat dikatakan sebagai fosil, demikian pula dengan peralatan-peralatan hidup manusia purba.
Apakah batubara dan minyak bumi disebut fosil ?
Fosil kebanyakan berada pada batukapur, batupasir, dan shale (batuan sediment). Kandungan-kandungan organisma dapat juga terjebak pada aspal alam, amber, dan es.

Batas antara masa lampau dan masa kini adalah pada awal Holocen yaitu sekitar 11.000 tahun yang lalu. Sedangkan jarak/rentang umur fosil dari 3,5 milyar tahun – jejak-jejak tua dari microscopic cyanobacteria (ganggang biru-merah) sampai 10.000 tahun sisa-sisa tua dari binatang-binatang yang terawetkan selama zaman es terakhir
Paleontologis (adalah ilmuwan yang mempelajari kehidupan prasejarah) menggunakan fosil-fosil untuk membaca bagaimana kehidupan telah berubah dan juga bagaimana sejarah bumi.

Tuesday, 20 December 2011

PEMBENTUKAN MINERAL



Mineral tanah adalah mineral yang terkandung di dalam tanah dan merupakan salah satu bahan utama penyusun tanah. Mineral dalam tanah berasal dari pelapukan fisik dan kimia dari batuan yang merupakan bahan induk tanah, rekristalisasi dari senyawa-senyawa hasil pelapukan lainnya atau pelapukan (alterasi) dari mineral primer dan sekunder yang ada.

Mineral mempunyai peran yang sangat penting dalam suatu tanah, antara lain sebagai indikator cadangan sumber hara dalam tanah dan  indikator muatan tanah beserta lingkungan pembentukannya. Jenis mineral tanah secara garis besar dapat dibedakan atas mineral primer dan mineral sekunder.

MINERAL PRIMER
Mineral primer adalah mineral tanah yang umumnya mempunyai ukuran butir fraksi pasir (2 – 0,05 mm). Contoh dari mineral primer yang banyak terdapat di Indonesia beserta sumbernya disajikan dalam Tabel 1.

Tabel 1. Beberapa jenis mineral primer

Analisis jenis dan jumlah mineral primer dilakukan di laboratorium mineral dengan bantuan alat mikroskop polarisasi. Pekerjaan analisis mineral primer dilaksanakan dalam dua tahapan, yaitu pemisahan fraksi pasir dan identifikasi jenis mineral.

Pemisahan fraksi pasir
Prinsip dasar pemisahan fraksi pasir adalah menghilangkan material penyemen yang menyelimuti atau menyemen butir-butir pasir dan memisahkan butir mineral berukuran fraksi pasir dari fraksi debu dan liat. Material yang menyeliputi butir pasir dalam tanah umumnya berupa bahan organik. Namun pada beberapa jenis tanah, material penyeliput tersebut selain oleh bahan organik, juga oleh besi (pada tanah merah) dan oleh karbonat (pada tanah kapur). Bahan organik dihilangkan dengan hidrogen peroksida (H2O2) besi dengan sodium dithionit (Na2S2O4) dan karbonat dengan Chlorida (HCl).

HIPOTESIS TERBENTUKNYA BUMI


A. Geosentris vs Heliosentris
Banyak para ahli telah mengemukakan hipotesisnya tentang kedudukan bumi di alam semeste ini. Ada dua hipotesis yang sangat terkenal dan keduanya sangat berbeda. Demokritos (460-370 SM) berpendapat bahwa semua benda langit bergerak mengelilingi massa sentral, yaitu bumi. Paham ini berkembang sebelum abad XVII yang disebutnya sebagai paham Geocentris yang menyatakan bahwa “bumi merupakan pusat dari segalanya”, matahari; bintang; planet-planet, dan bulan beredar mengelilingi bumi.

Paham Geosentris telah lama ditinggalkan setelah diketahuinya bahwa bumi hanya merupakan salah satu planet kecil saja, yang bersama-sama planet lainnya beredar mengelilingi matahari. Paham yang terakhir ini disebut dengan Heliocentris. Copernicus (1473-1543) diantaranya yang mengemukakan bahwa matahari merupakan pusat alam semesta dan kedudukannya tetap serta seluruh gerakannya hanya merupakan hayalan belaka dari gerakan bumi.

Perkembangan selanjutnya Isaac Newton (1643-1723) dengan Teori Gravitasinya membuktikan bahwa suatu kekuatan yang mengatur pergerakan bumi, planet, dan benda lainnya yang berputar pada porosnya dan atau orbitnya. Gaya yang bekerja tersebut berbanding terbalik dengan kuadrat jaraknya.






B. Hipotesis-Hipotesis Tentang Terbentuknya Bumi
Secara khusus, tentang terjadinya bumi dengan beberapa hipotesisnya dipelajari dalam suatu ilmu yang disebut Kosmogoni. Beberapa hipotesis tentang terbentuknya bumi antara lain dikemukakan oleh para ahli berikut ini.